Opini

Uga Sunda Sebagai Early Warning System

188
×

Uga Sunda Sebagai Early Warning System

Sebarkan artikel ini

Penulis – Robby Maulana Zulkarnaen

Newssindo – Sebuah bangsa jarang berubah karena satu peristiwa. Perubahan biasanya dimulai dari hal-hal kecil yang berlangsung perlahan, berulang, lalu suatu hari kita menyadari bahwa suasananya sudah berbeda.

Hukum masih berjalan, tetapi rasa keadilan mulai dipersoalkan. Kekuasaan tetap bekerja, tetapi terasa semakin jauh dari kehidupan masyarakat. Sungai masih mengalir, tetapi airnya tidak lagi sejernih dahulu. Ruang sosial semakin ramai, tetapi orang justru semakin mudah saling mencurigai. Mereka yang selama ini menjadi rujukan pun tidak selalu lagi menghadirkan keteladanan.

Masyarakat tidak kehilangan keseimbangannya dalam satu malam. Ada proses yang mendahuluinya: nilai perlahan diabaikan, pengetahuan tidak lagi diwariskan, kepercayaan menipis dan mereka yang seharusnya menjaga ukuran benar dan salah mulai kehilangan wibawa.

Orang Sunda sebenarnya memiliki cara untuk membaca gejala semacam itu. Salah satunya tersimpan dalam Uga.

Uga selama ini lebih sering dipahami sebagai ramalan tentang masa depan. Padahal, ia dapat dibaca dengan cara lain, bukan sebagai kepastian mengenai apa yang akan terjadi, melainkan sebagai gambaran tentang tanda-tanda yang muncul sebelum sebuah tatanan mengalami kerusakan.

Dalam pengertian itu, Uga dapat ditempatkan sebagai semacam early warning system. Bukan untuk memastikan masa depan, tetapi untuk mengenali perubahan sebelum akibatnya menjadi terlalu jauh. Pertanyaannya bukan lagi, “Kapan sesuatu akan terjadi?”, melainkan, “Apa yang mulai hilang dari kehidupan kita?”

Salah satu penggalannya berbunyi:

“Kawung mabur carulukna,
Gula leungiteun ganduan,
Samak leungiteun pandanna,
Cihérang tinggal kiruhna,
Ciamis kari paitna,
Kyai/Resi leungiteun ajina,
Pandita ilang komara,
Kahuruan ku napsuna.”

Menariknya, Uga tidak berbicara dengan bahasa yang rumit. Ia menggunakan sesuatu yang dekat dengan kehidupan, tetapi justru dari kedekatan itulah muncul gambaran yang luas.

Kawung mabur carulukna. Pohon kawung masih ada, tetapi buahnya hilang. Sebuah pohon tetap berdiri, namun tidak lagi menghasilkan sesuatu yang dapat diteruskan. Gambaran ini terasa dekat ketika kita melihat hubungan antargenerasi yang semakin renggang. Pengetahuan, nilai dan pengalaman yang dahulu diwariskan perlahan kehilangan ruang. Yang dipertaruhkan bukan sekadar apakah generasi muda masih mengenal tradisi, tetapi apakah sebuah masyarakat masih memiliki kemampuan untuk meneruskan dirinya sendiri.

Lalu gula leungiteun ganduan. Gula kehilangan cetakannya. Ia masih gula, tetapi tidak lagi memiliki bentuk yang menjadi penyangganya.

Kehidupan bersama pun membutuhkan “cetakan” semacam itu. Hukum, aturan, norma dan etika memberi bentuk agar kehidupan tidak berjalan hanya mengikuti kepentingan masing-masing. Ketika ukuran itu melemah, hukum mungkin tetap tertulis dan lembaga tetap berdiri, tetapi masyarakat mulai bertanya, apakah yang berlaku masih menghadirkan keadilan?

Dari sana kita menemukan samak leungiteun pandanna. Tikar kehilangan pandan sebagai bahan pembentuknya. Kebudayaan pun demikian. Ia tidak harus berhenti berubah, tetapi perubahan yang membuat masyarakat kehilangan hubungan dengan akar akan menciptakan persoalan lain. Bahasa semakin jauh, pengetahuan budaya tidak diwariskan, nilai hanya menjadi istilah, dan ingatan kolektif perlahan menghilang.

Pada akhirnya, yang hilang bukan hanya tradisi, tetapi cara memahami siapa kita dan dari mana cara pandang itu berasal.

Kemudian Uga membawa kita kepada air, Cihérang tinggal kiruhna. Air yang jernih tinggal keruhnya.

Kita bisa membacanya secara harfiah melalui sungai yang tercemar, hutan yang kehilangan tutupan, tanah yang kehilangan daya dukung, atau banjir dan longsor yang berulang. Tetapi air juga dapat menjadi gambaran kehidupan sosial. Kejujuran, kebenaran dan kepercayaan membutuhkan kejernihan yang sama. Ketika ruang bersama dipenuhi kebohongan, fitnah, manipulasi dan kepentingan, yang keruh bukan hanya informasi, melainkan hubungan antarmanusia.

Dari kejernihan yang hilang itu, Uga bergerak kepada rasa, Ciamis kari paitna. Yang semestinya manis tinggal pahitnya.

Pahit dapat dirasakan ketika sesuatu yang diharapkan membawa manfaat justru menjadi beban. Kebijakan yang dimaksudkan untuk memperbaiki kehidupan dapat menimbulkan kekecewaan ketika manfaatnya tidak dirasakan secara adil. Pembangunan boleh menghadirkan angka dan gedung, tetapi ukuran akhirnya tetap manusia yang menjalani dan merasakan akibatnya.

Ketika rasa keadilan mulai hilang, masyarakat tidak lagi hanya bertanya apa yang dilakukan, tetapi untuk siapa semuanya dilakukan.

Dan menariknya, setelah berbicara tentang rasa, Uga menyebut mereka yang seharusnya menjadi penjaga nilai, Kyai/Resi leungiteun ajina. Para pemuka agama kehilangan aji, kehilangan wibawa.

Ini bukan semata soal berkurangnya pengaruh. Aji lahir dari keteladanan, dari kesesuaian antara apa yang disampaikan dengan kehidupan yang dijalankan. Ketika pemuka agama terlalu larut dalam politik praktis, kepentingan kelompok, perebutan pengaruh atau bahkan kepentingan pribadi, yang dipertaruhkan bukan hanya citra dirinya. Masyarakat dapat kehilangan tempat untuk mencari kejernihan moral.

Kemudian, Pandita ilang komara. Para pandita kehilangan komara, kehormatan yang semestinya tumbuh dari kebijaksanaan dan integritas.

Maknanya dapat dibaca lebih luas kepada siapa pun yang memiliki pengetahuan, kewenangan dan tanggung jawab moral; pemimpin, pendidik, cendekiawan, penegak hukum, tokoh agama maupun tokoh masyarakat. Ketika pengetahuan tidak lagi berjalan bersama integritas, kewenangan tidak lagi disertai tanggung jawab dan keteladanan semakin sulit ditemukan, yang terkikis bukan hanya kehormatan seseorang, tetapi kepercayaan masyarakat kepada mereka yang seharusnya menjadi rujukan.

Jika kita mengikuti alur Uga sampai di sini, tampak bahwa setiap larik seperti menunjukkan tanda yang saling berhubungan. Ada sesuatu yang tidak lagi diwariskan, ada ukuran yang kehilangan bentuk, ada akar yang mulai terlepas, air yang menjadi keruh, rasa yang berubah pahit, lalu para penjaga nilai yang kehilangan aji dan komara.

Lalu sampailah kita pada larik terakhir yang justru mengarah kepada sumber persoalan:

Kahuruan ku napsuna.

Terbakar oleh napsunya sendiri.

Di sini Uga seperti mengembalikan seluruh persoalan kepada manusia. Kerusakan tidak selalu datang dari luar. Ia dapat tumbuh dari keinginan yang tidak lagi mengenal batas.

Napsu bukan sekadar keinginan. Ia menjadi masalah ketika keinginan tidak lagi dikendalikan oleh tanggung jawab. Ambisi berubah menjadi dorongan untuk menguasai, kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan bersama dan kekuasaan yang semestinya menjadi amanah berubah menjadi alat memenuhi kehendak.

Dalam kekuasaan, napsu dapat mengaburkan batas antara amanah dan kepentingan. Dalam hukum, ia dapat menggeser rasa keadilan. Dalam kebijakan, ia dapat membuat kepentingan tertentu lebih penting daripada kepentingan masyarakat.

Pada titik itu, kerusakan tidak lagi sepenuhnya berada di luar manusia. Ia lahir dari pilihan yang dibuat dan kekuasaan yang digunakan.

Mungkin di situlah Uga menemukan relevansinya sebagai early warning system. Kita tidak harus sibuk mencari siapa yang sedang dimaksud, zaman mana yang diramalkan, atau peristiwa apa yang paling cocok dengan setiap lariknya. Yang lebih penting adalah melihat apakah tanda-tanda itu mulai hadir di sekitar kita.

Ketika pewarisan melemah, pedoman kehilangan daya, hubungan dengan akar budaya semakin jauh, lingkungan dan ruang sosial semakin keruh, kehidupan bersama terasa pahit, sementara mereka yang seharusnya menjaga nilai kehilangan kewibawaan, kita patut berhenti sejenak dan membaca kembali keadaan.

Sebab Uga mungkin tidak sedang meminta kita menunggu masa depan. Ia justru mengajak kita mengenali gejala yang sedang berlangsung, sebelum semuanya menjadi akibat yang sulit diperbaiki.

Pertanyaannya kemudian sederhana, tetapi tidak ringan:

Apakah kita masih mampu membaca tanda, atau baru akan menyadarinya setelah semuanya terlambat?

**Pemerhati Kebudayaan Sunda

Opini

Oleh : Idat Mustari** Newssindo – Jabatan menurut…