Opini

Dilema Politik Dadang Supriatna

24
×

Dilema Politik Dadang Supriatna

Sebarkan artikel ini

Oleh: Soeryawan Masangang**

Newssindo – Disadari atau tidak, diakui atau tidak, dari 30 kepala daerah kabupaten dan kota se-Jawa Barat, ada beberapa yang sangat menonjol dan dikenal luas karena gaya kepemimpinannya yang menarik, unik, bahkan fenomenal dalam memimpin daerahnya. Rekam jejaknya jelas, ulet, dan pengambilan keputusannya selalu di lapangan di hadapan masyarakatnya.

Di antaranya bisa kita sebut Wali Kota Bekasi, Kabupaten Subang, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Indramayu, dan yang lebih menonjol adalah Bupati Kabupaten Bandung Dr. Dadang Supriatna yang diperkirakan akan terus tersohor menjadi pemimpin politik muda masa depan yang handal, kuat, disegani, bahkan semesta selalu menjatuhkannya dan mengangkatnya kembali di antara pertarungan kawan dan lawan. Inilah dilema Dadang Supriatna sebagai pemimpin muda masa depan untuk semua.

Dadang Supriatna merintis karier politik dari bawah, orang biasa, hidup sulit, menjadi tokoh besar seperti saat ini. Slogan: orang miskin tidak boleh menjadi pemimpin, tidak berlaku bagi Dadang Supriatna. Dia ulet, bertarung, dan selalu menghadapi badai, kadang jatuh tapi naik kembali seakan semesta menjaganya.

Menjadi Kepala Desa 2 periode, mantan Ketua KNPI Kabupaten Bandung, mantan anggota DPRD Kabupaten Bandung 2 periode, bahkan menjadi anggota DPRD Jawa Barat. Dan saat bertarung menuju Bupati Kabupaten Bandung, dia teratas dan diunggulkan, kemudian dijatuhkan oleh partainya sendiri. Malu, menghilang, dan muncul lagi sebagai calon yang diusung oleh partai lain PKB dan PKS dengan dana seadanya. Di ujungnya, dia tetap sebagai pemenang dan dilantik sebagai Bupati. Bertarung kembali di periode kedua, tetap menjadi Bupati sampai hari ini.

Dia dikenal sebagai pemimpin yang selalu kerja 24 jam menemui rakyat, kerjanya kolaborasi, aksinya cepat, dan mampu menggerakkan masyarakat untuk membantunya dengan hati.

Dalam keteguhan dan proses perjuangan yang panjang di bidang politik, segala mental, pikiran, keahlian, kecepatan, jatuh bangun selalu terjadi dan dihadapi dengan sikap tenang. Dia tahu kapan diam dan kapan melawan. Jika ditanya pada siapa pun yang mengenalnya, Dadang Supriatna adalah tokoh muda yang bermental kuat dan selalu mampu menghadapi setiap badai persoalan dengan jiwa bertarung. Kepemimpinan sosok seperti ini sangat dibutuhkan oleh rakyat bawah untuk merubah kehidupannya.

Saat ini Dadang Supriatna telah mencapai puncak politik tertinggi di daerahnya dan tentunya sebagai seorang politisi ulung, dia punya insting. Perebutan jabatan politik yang lebih tinggi pasti akan muncul pro dan kontra. Kawan dan lawan berteriak untuk menyerang serta akan menjatuhkannya, tapi tetap dia tampil tenang sebagai tokoh besar. Makin banyak orang memfitnah dan menyerangnya secara hukum, maka makin besar pula namanya terangkat, terdengar luas di mana-mana.

Cita-citanya yang besar pasti akan menghadapi badai yang besar yang siap menyetop dan menyerangnya. Inilah dilema Dadang Supriatna menjadi tokoh besar di masa depan. Ini sangat menarik dan menjadi pembicaraan tidak hanya warga Kabupaten Bandung, tapi meluas di seluruh Jawa Barat. Tuhan punya jalan-Nya sendiri untuk mengangkat hamba-Nya walau caranya negatif.

Satu-satunya kasus besar yang disorot dan dihadapi Dadang Supriatna saat ini adalah kasus BDS yang telah mengangkat namanya, tidak hanya dibicarakan oleh warga Kabupaten Bandung tapi meluas hingga Jawa Barat bahkan nasional. Nama dan wajahnya terdengar dan terlihat di mana-mana. Kita merasa ini sebagai hukuman, tapi di balik ini mungkin ada sesuatu yang tidak kita tahu, tapi Allah tahu. Cara kerja Allah berbeda untuk hamba-Nya. Pahit rasanya diserang dan difitnah, tapi ini obat dan jalan bagi Dadang Supriatna untuk menjadi seorang tokoh besar.

Mengenai kasus BDS telah digelar di sidang pengadilan, nama Dadang Supriatna selalu disebut-sebut. Apakah ini murni hukum atau politik, tidak ada yang bisa memberikan analisa pasti. Sebagai aktor politik, difitnah dan diserang menjadi hal yang biasa, selalu dihadapi dengan tenang dan tidak melawan walau itu bisa dilakukan. Biar proses hukum berjalan dan biarlah orang-orang hukum berdebat secara ilmu hukum, dan Dadang Supriatna akan tampil tetap sebagai seorang tokoh politik yang taat hukum dan memberikan teladan untuk semua, bahwa politik dan hukum adalah satu mata rantai yang selalu satu, semua punya risiko. Ini dilema Dadang Supriatna dari waktu ke waktu menuju Jabar Satu.

Tamat.

Bandung, 29 Agustus 2026

Ketua Pembina Rumah Besar Pergerakan**

Opini

Oleh : Idat Mustari** Newssindo – Jabatan menurut…