Life StyleBerita

Fenomena Gen Z Tinggalkan Alkohol dan Dunia Malam, Pengamat Budaya: Ini Bukan Sekadar Tren, tetapi “Mulang ka Diri”

29
×

Fenomena Gen Z Tinggalkan Alkohol dan Dunia Malam, Pengamat Budaya: Ini Bukan Sekadar Tren, tetapi “Mulang ka Diri”

Sebarkan artikel ini

BANDUNG,-

Newssindo  – Pergeseran gaya hidup di kalangan Generasi Z (Gen Z) semakin nyata terlihat. Jika beberapa tahun lalu kehidupan malam dan konsumsi alkohol kerap dikaitkan dengan gaya hidup anak muda, kini kecenderungan itu mulai bergeser menuju olahraga, pola hidup sehat, serta budaya ngopi di coffee shop yang menjadi ruang produktif dan membangun komunitas.

Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi tren global. Laporan British Medical Journal (BMJ) pada 2025 menunjukkan konsumsi alkohol di kalangan usia muda mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Di Inggris, sekitar seperempat anak muda berusia 16–24 tahun mengaku tidak mengonsumsi alkohol selama satu tahun terakhir. Di sisi lain, gerakan sober curious atau memilih hidup dengan mengurangi konsumsi alkohol demi kesehatan semakin berkembang di berbagai negara.

Di Indonesia, tren serupa tampak dari meningkatnya minat anak muda terhadap olahraga seperti lari, gym, yoga, bersepeda, hingga padel. Coffee shop pun berkembang menjadi ruang ketiga (third place) yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat menikmati kopi, tetapi juga menjadi lokasi bekerja, belajar, berdiskusi, hingga membangun jejaring sosial. Survei Jakpat yang dipublikasikan Katadata pada 2025 menunjukkan mayoritas responden Gen Z merupakan penikmat kopi dan menjadikan coffee shop sebagai salah satu ruang favorit untuk beraktivitas.

Namun, menurut Robby Maulana Zulkarnaen, pengamat budaya Sunda yang dikenal aktif menyuarakan berbagai fenomena sosial di Jawa Barat serta aktif di lingkungan kampus dan organisasi masyarakat, perubahan tersebut tidak cukup dipahami sebagai sekadar perubahan tren konsumsi atau pilihan hiburan.

Menurutnya, fenomena tersebut merupakan gejala budaya yang dalam falsafah Sunda dikenal sebagai “mulang ka diri”.

“Dari perspektif budaya, pergeseran gaya hidup Generasi Z tidak cukup dibaca hanya sebagai perubahan tren konsumsi atau pilihan hiburan. Fenomena ini dapat dipahami sebagai gejala mulang ka diri, yaitu tumbuhnya kesadaran untuk kembali menata hubungan manusia dengan tubuh, pikiran, waktu, dan tujuan hidupnya,” ujar Robby.

Robby menjelaskan bahwa dalam tradisi Sunda, mulang ka diri bukan sekadar kembali kepada diri sendiri dalam arti individualistis, melainkan proses ngariksa diri, yaitu memeriksa, merawat, sekaligus menyadari batas dan arah kehidupan. Ketika kesadaran tersebut tumbuh pada banyak individu dalam satu generasi, menurutnya, lahirlah sebuah kesadaran kolektif.

Ia menilai hal itu tercermin dari semakin banyaknya anak muda yang mulai meninggalkan kebiasaan yang dinilai merusak kualitas hidup jangka panjang dan memilih aktivitas yang lebih sehat. Komunitas lari, gym, yoga, bersepeda, hingga ruang diskusi di kedai kopi kini bukan lagi sekadar tempat berkumpul, tetapi telah menjadi ruang pembentukan identitas generasi.

Robby juga mengaitkan fenomena tersebut dengan berbagai stereotip yang selama ini dilekatkan kepada Generasi Z, seperti sebutan “generasi stroberi”, yakni generasi yang dinilai tampak menarik dari luar, tetapi dianggap rapuh, mudah stres, dan kurang tahan menghadapi tekanan.

Menurutnya, cap tersebut justru menjadi pemicu bagi sebagian anak muda untuk membuktikan diri melalui disiplin hidup, prestasi, pengembangan karier, menjaga kesehatan mental, hingga membangun komunitas yang produktif.

“Mereka tidak selalu menjawab stigma dengan slogan, tetapi melalui praktik hidup sehari-hari. Bangun pagi untuk berlari, menjaga pola makan, membatasi konsumsi berlebihan, bekerja dari coffee shop sambil belajar atau membangun jejaring, serta mencari keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan mental,” jelasnya.

Dalam pandangan budaya Sunda, lanjut Robby, fenomena tersebut menunjukkan pergeseran dari hirup sakahayang (hidup semaunya) menuju hirup anu ditata ku kasadaran (hidup yang dituntun oleh kesadaran). Kebebasan, menurutnya, bukan berarti melakukan segala sesuatu tanpa batas, melainkan kemampuan mengendalikan diri demi kualitas hidup yang lebih baik.

Karena itu, ia menilai perubahan yang sedang berlangsung pada Generasi Z sesungguhnya bukan sekadar perpindahan dari alkohol ke kopi atau dari pesta malam ke olahraga. Lebih dari itu, sedang terjadi perubahan orientasi makna hidup, yakni dari pencarian pengakuan melalui kesenangan sesaat menuju pencarian kebermaknaan melalui kesehatan, produktivitas, komunitas, dan pengembangan diri.

“Tentu tidak semua anggota Generasi Z telah sampai pada titik itu. Namun kecenderungan yang semakin kuat menunjukkan bahwa di balik berbagai stereotip tentang generasi muda, sedang tumbuh sebuah arus baru: kesadaran kolektif untuk kembali mengenal, menjaga, dan menata diri. Dalam bahasa Sunda, itulah hakikat mulang ka diri kepulangan manusia kepada kesadaran yang membuat hidupnya lebih sehat, lebih terarah, dan lebih bermakna,” pungkas Robby.

Tim Redaksi