BANDUNG,-
Newssindo – Kota Bandung bukan sekadar ibu kota Provinsi Jawa Barat. Kota ini merupakan barometer pembangunan, pusat pemerintahan, pendidikan, ekonomi kreatif, hingga wajah Jawa Barat di mata publik. Dengan karakter masyarakat yang majemuk, mobilitas tinggi, dan dinamika sosial yang kompleks, Bandung membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya populer, tetapi juga mampu membangun kerja sama yang solid di seluruh lini pemerintahan.
Tantangan yang dihadapi Kota Bandung hari ini tidaklah ringan. Tingkat pengangguran yang masih menjadi pekerjaan rumah, persoalan kualitas pendidikan, perlambatan ekonomi, krisis pengelolaan sampah, hingga meningkatnya kriminalitas sebagai dampak dari tekanan sosial-ekonomi, merupakan persoalan yang saling berkaitan. Masalah-masalah tersebut tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan parsial ataupun mengandalkan satu figur semata.
Di tengah kompleksitas tersebut, Ketua Presidium Corong Jabar, Perhimpunan Politisi, Aktivis, Profesi, Guru Besar, Akademisi, dan Tokoh Masyarakat, Yusuf Sumpena, SH., S.PM. atau yang akrab disapa Kang Iyus, mengingatkan pentingnya keharmonisan di dalam tubuh Pemerintah Kota Bandung.
Menurutnya, keberhasilan sebuah pemerintahan sangat ditentukan oleh hubungan yang harmonis antara Wali Kota, Wakil Wali Kota, seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), hingga jajaran birokrasi di bawahnya. Tanpa kekompakan, program yang baik sekalipun berpotensi berjalan lambat, bahkan kehilangan arah.
“Kota Bandung membutuhkan kepemimpinan yang cerdas, solid, dan memahami tata kelola pemerintahan. Yang dibutuhkan masyarakat adalah hasil kerja, bukan sekadar narasi. Pemerintahan tidak boleh kehilangan energi hanya karena lemahnya koordinasi internal,” ujar Kang Iyus kepada Newssindo, pada Rabu, 22 Juli 2026.
Ia menegaskan bahwa persoalan Kota Bandung tidak mungkin diselesaikan dengan pola kepemimpinan one man show. Dalam manajemen pemerintahan modern, terdapat siklus PDCA (Plan, Do, Check, Act) yang menekankan pentingnya perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan perbaikan secara berkelanjutan. Siklus tersebut hanya dapat berjalan efektif apabila seluruh unsur pemerintahan bergerak dalam satu irama.
Selain itu, pendelegasian kewenangan kepada perangkat daerah juga menjadi faktor penting agar pelayanan publik dan penyelesaian persoalan dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan terukur.
“Kota sebesar Bandung tidak bisa dipimpin dengan ego sektoral ataupun budaya bekerja sendiri. Team work yang solid adalah kunci. Ketika seluruh perangkat bergerak dalam satu visi, maka berbagai persoalan akan lebih mudah diselesaikan,” katanya.
Pernyataan tersebut menjadi kritik sekaligus pengingat bahwa masyarakat sesungguhnya tidak terlalu peduli siapa yang paling menonjol di ruang publik. Yang dinantikan warga adalah jalan yang lebih baik, sampah yang tertangani, lapangan kerja yang terbuka, keamanan yang meningkat, dan pelayanan publik yang semakin berkualitas.
Dalam pemerintahan, harmoni bukan berarti semua pihak harus selalu sepakat dalam setiap hal. Harmoni berarti memiliki tujuan yang sama dan mampu mengesampingkan kepentingan pribadi demi kepentingan masyarakat. Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar, namun jangan sampai berubah menjadi jarak yang menghambat pelayanan kepada rakyat.
Kang Iyus juga mengingatkan bahwa amanah rakyat yang diberikan kepada Wali Kota dan Wakil Wali Kota bukanlah mandat untuk berjalan sendiri-sendiri, melainkan amanah untuk dipikul bersama.
“Kita harus mencintai masyarakat Kota Bandung. Semua energi pemerintah harus difokuskan untuk kepentingan rakyat. Kepercayaan yang diberikan masyarakat harus dijaga dengan kerja nyata, bukan dengan membangun sekat-sekat di dalam pemerintahan,” tegasnya.
Ia pun mendorong agar para pemimpin Kota Bandung lebih terbuka mendengar aspirasi masyarakat, tokoh-tokoh daerah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, serta membangun sinergi yang sehat dengan DPRD Kota Bandung sebagai mitra strategis dalam menjalankan roda pemerintahan.
Pada akhirnya, masyarakat akan menilai pemerintahan bukan dari seberapa sering para pemimpinnya tampil di hadapan kamera, melainkan dari seberapa besar persoalan kota berhasil diselesaikan. Sebab sejarah tidak mencatat siapa yang paling sering berbicara, tetapi siapa yang mampu meninggalkan perubahan nyata bagi rakyat.
Bandung membutuhkan lebih dari sekadar pemimpin yang kuat. Bandung membutuhkan pemimpin yang mampu menyatukan kekuatan. Karena sebesar apa pun visi yang dimiliki, tanpa keharmonisan dan kerja tim yang solid, ia hanya akan menjadi rencana yang indah di atas kertas. Red












