BANDUNG,-
Newssindo – Pembongkaran kios pedagang di kawasan Dipatiukur atau Monumen Perjuangan (Monju) Bandung berbuntut panjang. Sebulan lebih digusur tanpa relokasi dan kompensasi yang jelas, seorang pedagang kini jatuh sakit dan harus dirawat akibat beban pikiran memikirkan kelangsungan hidup keluarganya.
Koalisi masyarakat sipil anti korupsi bersama para pedagang korban penggusuran menyatakan perlawanan terbuka kepada Gubernur Jawa Barat.
Koordinator Koalisi, Susanto, mengatakan dampak psikologis dan sosial sangat dirasakan pedagang. Pembongkaran dinilai sepihak dan tidak mengedepankan sisi kemanusiaan.

“Kita sudah 3 kali mendatangi Gedung Sate tapi tidak direspon, tidak ada Pak Sekda dan Pak Gubernur yang biasanya selalu hadir di medsos. Kita rakyat kecil jangan dibikin susah. Kawan kita sudah dirawat satu orang di rumah sakit, masa harus banyak korban berjatuhan karena dampak psikologis memikirkan kelangsungan hidup,” tegas Susanto, Senin (11/8).
Menurutnya, hingga kini tidak ada satu pun pejabat pengambil kebijakan di Pemprov Jabar yang memberikan kepastian kepada pedagang.
Buntut kekecewaan tersebut, puluhan pedagang dan koalisi memastikan akan menggelar aksi unjuk rasa besar dengan menginap di depan Gedung Sate selama 3 hari 2 malam untuk menuntut keadilan.
“Kami pastikan, kita akan meminta keadilan dengan bermalam di Gedung Sate, kami sudah menyiapkan segala sesuatunya,” jelas Susanto.
Hingga berita ini diturunkan, Sekda Jawa Barat maupun Gubernur Jawa Barat belum memberikan penjelasan konkret terkait nasib relokasi dan kompensasi bagi pedagang kios Dipatiukur. (San)









