BANDUNG,-
Newssindo – Aksi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) yang mengunjungi korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) menuai sorotan tajam dari pedagang kaki lima (PKL) Dipatiukur, Kota Bandung.
Kunjungan kemanusiaan tersebut dinilai mencederai hati masyarakat kecil di Jawa Barat. Pasalnya, puluhan PKL Dipatiukur yang kiosnya dibongkar 3 bulan lalu hingga kini belum mendapatkan perhatian, relokasi, maupun kompensasi dari Pemprov Jabar.

Koordinator Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi dan Kebijakan Pemerintah, Susanto, menilai langkah KDM mengecewakan. Sudah 4 kali PKL mendatangi Gedung Sate, namun nihil solusi.
“Fenomena kunjungan KDM ke korban gempa NTT ini kita nilai telah mencederai hati masyarakat kecil di Jawa Barat khususnya kaum PKL tergusur yang belum mendapatkan apapun,” ujar Susanto, Sabtu (22/8/2026) di Bandung.
Menurutnya, dalam Al-Quran jelas, sebelum menolong yang jauh, dahulukan keluarga atau yang terdekat.
“Beliau memberikan bantuan di luar sana, sementara masyarakat Jawa Barat yang dulu mendukung memilihnya, yakni PKL Dipatiukur, sampai detik ini diabaikan hidup sengsara tanpa keadilan atau bantuan,” tegasnya.
Kondisi PKL disebut semakin memprihatinkan. Ada 5 keluarga PKL jatuh sakit dampak psikologis, terlilit hutang bank karena kehilangan mata pencaharian, bahkan ada yang terpaksa menjual barang kontrakan untuk bertahan hidup dan makan sehari-hari.
“Mungkin… amit-amit Nauzubillah jangan sampai terjadi… jika keluarga PKL sampai ada yang meninggal, viral, kita gotong ke Gedung Sate baru nanti didengar,” tambahnya.
Atas kekecewaan tersebut, PKL Dipatiukur berencana menggelar aksi besar dengan mendirikan tenda keprihatinan selama sepekan di beberapa titik, termasuk di Jalan Dipatiukur dan Monumen Perjuangan.
Susanto berharap Gubernur menempatkan skala prioritas. Korban gempa NTT sudah ditangani pemerintah pusat, sementara warga Jawa Barat yang jaraknya hanya beberapa langkah dari Gedung Sate justru menjerit sejak 3 bulan lalu.
“Kami harap Bapak Aing (KDM) lebih mengedepankan skala prioritas. Di sini banyak yang menjerit, kenapa yang di sana didahulukan. Bukan kita iri karena korban gempa juga harus dibantu, tapi beberapa langkah dari kantornya sendiri ada yang lebih membutuhkan sejak 3 bulan lalu,” pungkasnya.










