BANDUNG,-
Newssindo – Di balik seragam loreng yang kini dikenakannya, tersimpan perjalanan hidup yang sarat air mata, pengorbanan, dan keteguhan hati. Bagi Hafid Nur Hidayah, menjadi prajurit TNI bukan sekadar meraih cita-cita, melainkan menuntaskan sebuah amanah terakhir dari sang ayah yang telah berpulang.
Lahir di Kebumen pada 30 Desember 2003, Hafid tumbuh dalam keluarga sederhana yang menanamkan nilai disiplin, kejujuran, dan cinta kepada Tanah Air. Sejak kecil, almarhum ayahnya selalu memimpikan suatu hari nanti melihat putranya berdiri tegak mengenakan seragam Tentara Nasional Indonesia. Impian itu terus diucapkan sebagai harapan sekaligus pesan hidup yang melekat di hati Hafid.
Takdir kemudian menguji langkahnya. Kepergian sang ayah disusul wafatnya ibunda membuat Hafid harus menjalani hidup sebagai anak yatim piatu. Kehilangan dua sosok yang paling dicintainya menjadi pukulan berat, namun bukan alasan untuk menyerah. Justru dari rasa kehilangan itu tumbuh tekad yang semakin kuat untuk menggenapi pesan terakhir ayahnya.
Dalam keterbatasan, Hafid membangun harapan dengan kerja keras. Ia berlatih fisik setiap hari menggunakan fasilitas sederhana, termasuk sebuah tiang pull up yang dibuat langsung oleh almarhum ayahnya. Bagi orang lain, tiang itu mungkin hanyalah rangka besi biasa. Namun bagi Hafid, benda sederhana tersebut adalah simbol kasih sayang, doa, dan semangat yang terus menguatkannya setiap kali rasa lelah dan putus asa datang menghampiri.
Setiap tetes keringat yang jatuh menjadi bagian dari perjuangan panjang menuju gerbang pengabdian. Ia menjalani setiap tahapan seleksi dengan penuh keyakinan, mengandalkan kemampuan sendiri tanpa jalan pintas. Disiplin, kejujuran, doa, dan usaha menjadi bekal utama yang terus dijaganya.
Perjuangan itu akhirnya berbuah manis. Hafid dinyatakan lulus murni menjadi prajurit TNI. Sebuah kabar yang bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga menjadi jawaban atas doa-doa yang selama ini dipanjatkan untuk kedua orang tuanya.
Dengan penuh haru, Hafid mengucapkan kalimat yang sederhana namun menyimpan makna yang begitu dalam.
“Alhamdulillah Pak, saya bisa lulus murni jadi tentara.”
Ucapan itu seolah menjadi percakapan seorang anak kepada ayahnya yang telah tiada. Sebuah janji yang akhirnya mampu ia tepati. Meski kedua orang tuanya tidak lagi hadir menyaksikan secara langsung, Hafid percaya doa dan restu mereka senantiasa menyertai setiap langkah hidupnya.
Kini, Hafid yang berdomisili di Dusun Banjar Harja RT 014/RW 004, Desa Kertajaya, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, menjadi simbol bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih mimpi. Sebagai anak kedua dari dua bersaudara, ia membuktikan bahwa kehilangan tidak harus melahirkan keputusasaan. Sebaliknya, kehilangan dapat menjadi sumber kekuatan untuk bangkit dan memberikan yang terbaik bagi bangsa.
Kisah Hafid adalah potret nyata bahwa kesuksesan tidak selalu lahir dari kehidupan yang mudah. Ia hadir dari perjuangan yang panjang, air mata yang tak terlihat, doa yang tak pernah putus, dan keyakinan bahwa setiap pengorbanan akan menemukan jalannya menuju keberhasilan.
Semoga perjalanan Hafid Nur Hidayah menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia. Bahwa cita-cita akan selalu dapat diraih oleh mereka yang mau berjuang dengan tulus, menghormati orang tua, menjaga integritas, serta tidak pernah berhenti berdoa.
Sebab, pada akhirnya, keberhasilan bukan hanya tentang mencapai impian, melainkan juga tentang menggenapi amanah orang-orang yang paling kita cintai dan mengabdikan diri sepenuh hati kepada bangsa dan negara. (Uje)
Sumber Pendam III Siliwangi












