OpiniBerita

Menggali Makna Uga Bandung: Sebuah Refleksi di Hari Jadi Kota Bandung

112
×

Menggali Makna Uga Bandung: Sebuah Refleksi di Hari Jadi Kota Bandung

Sebarkan artikel ini

Penulis: Robby Maulana Zulkarnaen

BANDUNG,-

Newssindo – Setiap Hari Jadi Kota Bandung, kita biasanya merayakan kota dengan mengenang sejarah, membicarakan kemajuan dan melihat berbagai wajah baru yang terus tumbuh. Namun, mungkin ada cara lain untuk memaknai hari jadi: berhenti sejenak, mengambil jarak dari hiruk-pikuk kota, lalu mencoba mendengarkan ingatannya.

Bandung bukan lagi kota kecil di cekungan yang dikelilingi gunung. Ia telah tumbuh menjadi kota metropolitan dengan gedung-gedung yang menjulang, kendaraan yang bergerak tanpa henti, teknologi yang semakin dekat dengan kehidupan dan manusia yang datang membawa berbagai harapan. Perubahan itu adalah bagian dari perjalanan sebuah kota. Tetapi setiap pertumbuhan selalu menyisakan pertanyaan: ketika sebuah kota berubah begitu cepat, apa yang masih tinggal sebagai jiwanya?

Pertanyaan semacam itu membawa kita kepada sebuah warisan tutur yang dikenal sebagai Uga Bandung.

Salah satu ungkapannya yang paling dikenal berbunyi:

“Sunda nanjung, lamun nu pundung ti Bandung ka Cikapundung geus balik deui.”

Kalimat itu sering dibaca sebagai ramalan tentang masa depan Bandung. Padahal, jika didengarkan lebih dalam, uga tidak selalu harus dipahami sebagai ramalan yang menunggu waktunya terbukti. Ia dapat dibaca sebagai cara leluhur menyimpan pengalaman, kegelisahan, harapan dan pandangan tentang hubungan manusia dengan ruang hidupnya.

Menariknya, Uga Bandung tidak hanya hidup sebagai cerita lisan. Ia juga pernah dituliskan dalam bentuk wawacan sekitar 40 halaman dengan judul Jayabaya Sareng Uga Bandung. Naskah tersebut ditulis oleh A. Prawira Suganda di Bandung dan selesai pada 25 Desember 1945. Catatan manuskrip ini penting bukan karena tanggal itu merupakan awal lahirnya Uga Bandung, melainkan karena menunjukkan bahwa tradisi tersebut telah diwariskan dan kemudian didokumentasikan dalam bentuk tulisan. Tradisi lisan sering kali lebih tua daripada catatan yang berhasil menyimpannya.

Di dalam ungkapan Uga Bandung, ada satu kata yang menarik untuk direnungkan: pundung.

Dalam pemakaian sehari-hari, pundung dapat berarti pergi karena kecewa atau tersinggung. Tetapi ketika ditempatkan dalam konteks Uga Bandung, kata itu membuka kemungkinan makna yang lebih luas. Yang pergi dari Bandung tidak harus selalu manusia. Bisa saja yang perlahan meninggalkan kehidupan kota adalah tata nilai, rasa memiliki, keseimbangan dengan alam, kesantunan dalam hubungan sosial, atau kesadaran bahwa kota bukan sekadar tempat untuk hidup, melainkan ruang yang harus dirawat bersama.

Lalu ke mana ia pergi?

Ti Bandung ka Cikapundung.

Di sini Cikapundung menjadi lebih dari sekadar nama sungai. Ia adalah bagian dari ingatan Bandung. Air mengalir melewati ruang, membawa jejak kehidupan, menyatukan hulu dan hilir, sekaligus memperlihatkan bagaimana manusia memperlakukan alam yang menjadi sumber kehidupannya.

Karena itu, ungkapan balik deui, kembali lagi, dapat dibaca bukan sekadar sebagai kepulangan secara fisik. Ia seperti mengingatkan bahwa ada saat ketika manusia, setelah berjalan terlalu jauh, perlu kembali kepada sumber yang memberinya arah.

Kembali kepada kesadaran bahwa pembangunan bukan hanya tentang mendirikan sesuatu, tetapi juga menjaga sesuatu. Kembali kepada pengertian bahwa kemajuan tidak cukup diukur dari apa yang tampak tumbuh di atas tanah, tetapi juga dari apa yang tetap hidup di dalam kehidupan warganya.

Menariknya, sejarah Bandung sendiri memiliki hubungan yang kuat dengan kawasan Cikapundung.

Dalam perjalanan awal perkembangannya, pendiri Kota Bandung, R.A. Wiranatakusumah II, memiliki peran penting dalam pemindahan pusat pemerintahan Kabupaten Bandung dari Krapyak ke wilayah yang kemudian berkembang menjadi Kota Bandung. Peristiwa yang secara resmi dijadikan dasar Hari Jadi Kota Bandung ditetapkan pada 25 September 1810.

Tidak jauh dari ingatan tentang Cikapundung, terdapat pula kisah tentang Sumur Bandung. Dalam tradisi setempat, sumur itu dikaitkan dengan R.A. Wiranatakusumah II yang menemukan sumber air pada 25 Mei 1811. Pada tempat itu kemudian dikenal sebuah nasihat beliau:

“Sumur Bandung mèrè karahayuan ka rahayat Bandung.
Sumur Bandung mèrè karahayuan ka Dayeuh Bandung.
Sumur Bandung rahayuning Dayeuh Bandung.”

Kata karahayuan terasa penting untuk dibaca kembali pada hari jadi sebuah kota. Ia tidak sekadar berarti kemakmuran dalam pengertian materi, tetapi juga keselamatan, kesejahteraan, ketenteraman dan keadaan hidup yang baik.

Di sinilah sejarah, Uga Bandung, Cikapundung dan Sumur Bandung seperti bertemu pada satu titik : air dan kehidupan.

Sebuah kota dapat membangun jalan, gedung, pusat perdagangan, kawasan wisata dan berbagai fasilitas modern. Tetapi pada akhirnya kota tetap membutuhkan air, ruang terbuka, udara yang sehat, sungai yang terjaga, dan manusia yang masih memiliki rasa tanggung jawab terhadap tempat tinggalnya.

Bandung hari ini menghadapi kenyataan yang jauh lebih kompleks dibandingkan Bandung pada masa lalu. Ungkapan “Bandung heurin ku tangtung” seolah menemukan makna baru. Kota semakin padat oleh bangunan, kendaraan, aktivitas, informasi, dan berbagai kepentingan. Namun persoalannya bukan semata-mata apakah Bandung semakin penuh. Yang lebih penting adalah apakah di tengah kepenuhan itu masih tersedia ruang bagi kebijaksanaan.

Kota bisa penuh oleh manusia, tetapi miskin kepedulian. Bisa kaya oleh informasi, tetapi miskin kebijaksanaan. Bisa semakin modern, tetapi perlahan kehilangan ingatan tentang siapa dirinya.

Karena itu, Uga Bandung menarik untuk dibaca bukan sebagai sesuatu yang harus ditunggu kebenarannya, melainkan sebagai cermin.

Ketika dikatakan bahwa nu pundung ti Bandung ka Cikapundung geus balik deui, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan kapan mereka akan kembali, melainkan apa yang harus kita kembalikan kepada Bandung hari ini.

Mungkin yang harus kembali adalah rasa hormat kepada alam. Mungkin kesadaran bahwa sungai bukan tempat membuang sesuatu yang tidak kita perlukan. Mungkin pula kesantunan dalam kehidupan bersama, rasa memiliki terhadap kota, dan kebanggaan terhadap kebudayaan yang tidak berhenti pada simbol, tetapi hadir dalam cara kita menjalani kehidupan.

Pada akhirnya, Hari Jadi Kota Bandung bukan hanya tentang usia. Ia adalah kesempatan untuk melihat perjalanan sebuah kota sekaligus perjalanan manusia yang hidup di dalamnya.

Kita boleh membangun Bandung setinggi mungkin. Kita boleh membuatnya semakin modern, semakin terhubung dengan dunia dan semakin maju dalam berbagai bidang. Tetapi di tengah semua itu, Bandung tetap membutuhkan sesuatu yang tidak dapat dibangun hanya dengan beton dan teknologi, yaitu karahayuan.

Barangkali itulah makna terdalam dari balik deui. Bukan sekadar kembali ke masa lalu, melainkan kembali menemukan arah.

Sebab yang membuat Bandung tetap menjadi Bandung bukan hanya apa yang tumbuh di atas tanahnya, tetapi apa yang masih hidup dalam ingatan, perilaku dan rasa memiliki warganya.

Selamat Hari Jadi Kota Bandung yang ke-216.

Semoga yang bertambah dari tahun ke tahun bukan hanya bangunan, kendaraan dan aktivitasnya, tetapi juga kebijaksanaan dalam merawatnya.

Karena kota yang baik bukan hanya kota yang berhasil dibangun, melainkan kota yang masih layak diwariskan.

** Pemerhati Budaya Sunda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *